Dari hiu yang terjebak ke rencana pembangunan Busan
Ketua Partai Demokrat Korea, Kim Min-seok, mengusulkan agar perhatian besar terhadap seekor hiu di Taman Tepi Air Pelabuhan Utara Busan diteruskan menjadi dukungan bagi pembangunan arena berkubah. Hiu itu dikenal dengan nama panggilan Bukangi, dan kemunculannya telah menarik perhatian warga terhadap kawasan pelabuhan serta nilai ruang publik di tepi laut.
Dalam unggahan di Facebook pada 3 Oktober, Kim menulis, “Drum-drum! Bukangi!” Ia mengatakan bahwa Bukangi telah membuat banyak hal kembali mendapat perhatian, lalu mengajak masyarakat mengarahkan perhatian tersebut pada rencana arena kubah di Pelabuhan Utara.
Bagi Kim, kemunculan Bukangi bukan hanya kisah tentang upaya menyelamatkan seekor hiu. Peristiwa itu juga membuka kesempatan untuk membicarakan masa depan kawasan Pelabuhan Utara Busan.
Mengapa Kim mengingat Roh Moo-hyun
Kim menyebut arena berkubah itu sebagai bagian penting dari pembangunan kembali Pelabuhan Utara, proyek yang menurutnya dimulai pada masa mantan Presiden Roh Moo-hyun. Ia menggambarkan arena tersebut sebagai tahap penutup atau puncak dari proses perubahan kawasan pelabuhan yang telah berlangsung lama.
Pembangunan kembali kawasan pelabuhan biasanya mencakup perubahan area yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan maritim menjadi ruang yang juga dapat dinikmati masyarakat. Contohnya, dermaga atau lahan pelabuhan dapat ditata menjadi taman, tempat rekreasi, pusat kegiatan, dan lokasi acara. Dalam pandangan Kim, arena berkubah dapat melengkapi perubahan semacam itu dengan menghadirkan tujuan baru bagi warga dan pengunjung.
Kim juga mengatakan gagasan arena tersebut didukung oleh sejumlah tokoh politik. Menurutnya, rencana itu merupakan janji kampanye Wali Kota Busan Jeon Jae-su, telah ia dorong sejak pemilihan umum sebelumnya, dan sejalan dengan pandangan Ketua Komite Anggaran Lee Kwang-jae.
Arena serbaguna yang direncanakan
Jeon Jae-su sebelumnya mengusulkan pembangunan stadion berkubah di Pelabuhan Utara menjelang pemilihan kepala daerah. Rancangannya bukan hanya untuk pertandingan bisbol: saat tidak ada musim pertandingan, tempat itu dapat digunakan untuk konser, pameran, kegiatan belanja, dan acara lainnya.
Arena berkubah adalah fasilitas olahraga atau hiburan yang memiliki atap besar, sehingga kegiatan di dalamnya tidak terlalu bergantung pada cuaca. Misalnya, pertandingan atau konser dapat tetap berlangsung saat hujan. Jika dibangun sebagai ruang serbaguna, fasilitas seperti ini juga dapat digunakan sepanjang tahun, bukan hanya pada musim pertandingan.
Namun, gagasan itu masih merupakan rencana dan janji politik. Berita ini tidak menyebut jadwal pembangunan, biaya, atau keputusan akhir mengenai bentuk proyek tersebut. Karena itu, dukungan Kim menunjukkan dorongan politik agar perhatian publik terhadap Bukangi turut memperkuat pembahasan mengenai masa depan kawasan itu, bukan bahwa pembangunan arena sudah dipastikan akan dimulai.
Hiu sekitar 3 meter ditemukan di kanal buatan
Bukangi ditemukan pada pagi 18 September di sebuah kanal buatan di Taman Tepi Air Pelabuhan Utara, wilayah Dong-gu, Busan. Panjang tubuhnya diperkirakan sekitar 3 meter. Hiu itu diduga termasuk jenis hiu macan pasir atau hiu hitam, tetapi identifikasi tersebut masih berupa perkiraan.
Para ahli menduga hiu itu masuk ke kanal saat mengejar mangsa, lalu kesulitan menemukan jalan keluar menuju laut. Kanal buatan yang sempit dapat menjadi lingkungan yang berbeda dari perairan terbuka: ruang gerak terbatas dan kesempatan untuk berburu makanan mungkin tidak cukup. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kesehatan hiu bisa memburuk apabila ia terus berada di sana.
Kehadiran hiu itu juga menarik banyak pengunjung. Dari 19 September hingga 2 Oktober, sebanyak 765.800 orang tercatat mendatangi taman tersebut. Jumlah itu memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa satwa liar dapat dengan cepat menarik perhatian masyarakat pada suatu ruang kota, meskipun pada saat yang sama pengelola perlu menjaga agar kerumunan tidak mengganggu penanganan hewan.
Dua upaya penyelamatan belum berhasil
Pemerintah Kota Busan dan pihak terkait berupaya mengarahkan Bukangi kembali ke laut. Pada 29 September, mereka mencoba menggunakan semburan air untuk mendorong hiu menuju laut, tetapi upaya pertama itu tidak berhasil.
Pada 2 Oktober, petugas menggunakan jaring besar untuk memindahkan hiu ke dekat pintu keluar kanal. Namun, jaring tersangkut di dasar sehingga operasi dihentikan. Setelah itu, jaring dipasang agar hiu tidak kembali bergerak ke bagian dalam kanal.
- Upaya pertama: semburan air diarahkan untuk menggiring hiu ke laut, tetapi tidak berhasil.
- Upaya kedua: jaring besar digunakan untuk mengarahkannya ke pintu kanal, tetapi tersangkut di dasar.
- Setelah operasi dihentikan, jaring dibiarkan terpasang untuk membatasi pergerakan hiu ke bagian dalam.
Meski demikian, sekitar tengah hari pada 3 Oktober, Bukangi melewati jaring dan kembali ke bagian dalam kanal. Badan Ilmu Perikanan Nasional Korea memperkirakan kenaikan permukaan air saat pasang membuat hiu dapat melampaui jaring tersebut. Pemerintah kota kemudian membahas dengan lembaga terkait kemungkinan untuk mengangkat jaring yang kini menghalangi pergerakan hiu.
Keputusan berikutnya: keselamatan hiu dan pilihan warga
Kim mengatakan keputusan apakah Bukangi sebaiknya dibiarkan di kanal atau dikembalikan ke laut perlu mempertimbangkan pendapat para ahli dan kebijaksanaan warga. Pernyataan itu menyoroti dua hal yang harus diseimbangkan: menjaga keselamatan hewan dan menentukan cara penanganan yang tidak memperburuk kondisinya.
Menggiring hiu ke laut bukan sekadar memindahkan hewan dari satu tempat ke tempat lain. Petugas perlu memperhitungkan kondisi kanal, arus dan ketinggian air, serta cara menghindari cedera saat menggunakan jaring. Karena upaya sebelumnya terkendala semburan air, jaring yang tersangkut, dan perubahan permukaan air, langkah selanjutnya memerlukan koordinasi yang cermat.
Kim menutup pesannya dengan ajakan untuk “menyelamatkan Bukangi sekaligus menghidupkan arena kubah”, serta menyatakan dukungannya bagi Busan. Untuk saat ini, nasib hiu itu masih belum pasti, sementara pemerintah kota dan lembaga terkait perlu menentukan cara paling aman untuk menangani jaring dan membuka jalur menuju laut.




















