Mengapa “ibu kami” terdengar wajar, tetapi “negara kami” terasa keliru?
Dalam bahasa Korea, seseorang lazim menyebut ibunya dengan ungkapan uri eomma, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “ibu kami” atau “ibu kita”. Ungkapan itu biasanya tidak berarti bahwa si pembicara berbagi ibu dengan orang lain. Maksudnya adalah ibu yang menjadi bagian dari keluarga si pembicara.
Kebiasaan serupa berlaku untuk suami atau istri, anak, rumah, dan keluarga. Karena itu, terjemahan kata demi kata bisa membuat penutur bahasa lain bingung: apakah orang Korea memiliki beberapa ibu atau berbagi pasangan dengan orang lain? Dalam pemakaian sehari-hari, biasanya tidak demikian.
Intinya, kata yang secara harfiah berarti “kami” dalam bahasa Korea dapat menandai hubungan dekat atau keanggotaan dalam keluarga, bukan selalu kepemilikan bersama secara harfiah.
Bahasa tidak selalu mengikuti logika yang kaku
Orang kadang beranggapan bahwa ada bahasa yang secara bawaan lebih logis atau lebih jelas daripada bahasa lain. Padahal, setiap bahasa tumbuh melalui kebiasaan penuturnya selama waktu yang panjang. Aturan bahasa tidak selalu terbentuk seperti rumus matematika; penggunaan yang terus berulang dapat menghasilkan pola yang terasa wajar bagi penuturnya, meski tampak ganjil jika diterjemahkan langsung.
Bahasa Prancis dan bahasa Inggris, misalnya, dikenal memiliki banyak kata yang ejaannya tidak sepenuhnya mencerminkan cara pengucapannya. Hal itu tidak menjadikan kedua bahasa tersebut tidak berguna atau tidak logis. Demikian pula, pemakaian kata “kami” dalam bahasa Korea lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan dan sudut pandang bahasa, bukan sebagai kesalahan logika.
“Kami” sebagai penanda hubungan
Kamus bahasa Korea menjelaskan salah satu fungsi kata uri sebagai sebutan akrab untuk sesuatu yang berhubungan dengan si pembicara. Dalam contoh seperti “lingkungan kita” atau “sekolah kita”, kata itu dapat merujuk pada tempat yang digunakan bersama oleh banyak orang.
Namun, saat kata tersebut diikuti nama anggota keluarga, maknanya lebih dekat dengan “anggota keluarga yang berhubungan dengan saya”. Dengan kata lain, uri eomma dapat dipahami sebagai “ibu saya, sebagai anggota keluarga kami”. Bahkan orang yang tinggal sendirian dapat menyebut tempat tinggalnya dengan ungkapan yang secara harfiah berarti “rumah kami”.
- “Ibu kami” biasanya berarti ibu si pembicara, bukan ibu yang dimiliki bersama oleh beberapa orang.
- “Rumah kami” dapat merujuk pada rumah si pembicara, sekalipun ia tinggal sendiri.
- “Perusahaan kita” dapat merujuk pada organisasi yang menjadi tempat kerja pembicara dan lawan bicaranya.
Ketika terjemahan harfiah menyesatkan
Terjemahan harfiah adalah penerjemahan yang mengikuti kata demi kata tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan maksud dan konteks. Dalam kasus ini, “ibu kami” mungkin terdengar seperti pernyataan tentang kepemilikan bersama dalam bahasa Indonesia, sementara dalam bahasa Korea ungkapan tersebut dapat berfungsi sebagai sebutan keluarga yang biasa.
Karena itu, penerjemah perlu menanyakan siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara, dan hubungan apa yang sedang ditunjukkan. Dalam banyak situasi, padanan yang paling alami dalam bahasa Indonesia justru “ibuku” atau “ibu saya”, bukan “ibu kami”.
Perbedaan antara uri dan jeohui
Perbedaan penting lainnya terletak pada hubungan kata dengan lawan bicara. Uri tidak dengan sendirinya mengecualikan orang yang diajak bicara. Sebaliknya, jeohui adalah bentuk merendahkan diri untuk menyebut kelompok si pembicara dan, dalam konteks tertentu, dapat memberi kesan bahwa lawan bicara berada di luar kelompok itu.
Perbedaan ini membuat pilihan kata menjadi penting ketika membicarakan perusahaan atau negara. Bayangkan seorang pegawai berbicara kepada atasannya yang bekerja di perusahaan yang sama. Jika ia menyebut perusahaan itu sebagai “perusahaan kami” dengan bentuk yang mengecualikan lawan bicara, kalimatnya seolah-olah menyatakan bahwa sang atasan bukan bagian dari perusahaan tersebut.
Kesopanan tidak selalu berarti merendahkan kelompok sendiri. Jika pembicara dan pendengar memang termasuk dalam kelompok yang sama, bentuk yang mencakup keduanya lebih sesuai.
Mengapa “negara kami” menjadi masalah?
Negara biasanya merupakan komunitas politik bersama bagi warga yang tinggal di dalamnya. Karena pembicara dan pendengar sama-sama menjadi bagian dari negara itu, bentuk yang bermakna “negara kita” lebih tepat daripada bentuk yang mengisyaratkan “negara kami, bukan negara Anda”.
Logika serupa dapat diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Kepada rekan kerja di perusahaan yang sama, seseorang dapat memakai ungkapan yang berarti “perusahaan kita”. Kepada orang dari luar perusahaan, bentuk yang bermakna “perusahaan kami” dapat sesuai karena pendengar memang tidak termasuk di dalamnya.
- Kepada sesama warga negara: gunakan bentuk yang mencakup pembicara dan pendengar, yaitu “negara kita”.
- Kepada orang dari negara lain: bentuk yang berarti “negara kami” dapat sesuai jika konteksnya memang membedakan kedua negara.
- Kepada atasan yang bekerja di perusahaan yang sama: jangan otomatis memakai bentuk yang mengeluarkan atasan dari kelompok perusahaan.
Bahasa Korea bukan satu-satunya yang memakai pola ini
Kebiasaan menjadikan “kami” sebagai penanda kedekatan atau lingkungan keluarga tidak hanya ditemukan dalam bahasa Korea. Bahasa Mongolia, misalnya, menggunakan kata manai—yang berarti “milik kita” atau “kami”—dalam ungkapan untuk ibu dan rumah. Pola ini memperlihatkan bahwa bahasa dapat mengutamakan hubungan seseorang dengan keluarga atau tempat tinggal, bukan hanya kepemilikan individu.
Dalam bahasa Turki, kata bizim juga dapat digunakan dengan cara yang mirip. Ungkapan bizim eve gel secara harfiah mengandung makna “datanglah ke rumah kami”, tetapi dalam percakapan dapat berarti ajakan untuk datang ke rumah si pembicara, sebagaimana “mampirlah ke rumahku” dalam bahasa Indonesia.
Bahasa Jepang memiliki pola yang agak berbeda, tetapi masih menunjukkan perhatian pada batas antara lingkungan rumah dan dunia luar. Kata uchi berarti “bagian dalam” atau “rumah kita”, dan ungkapan uchi no okāsan dapat digunakan untuk menyebut “ibu saya” dalam lingkungan keluarga.
Hubungan sosial memengaruhi pilihan kata
Pola-pola ini mungkin berkaitan dengan kuatnya gagasan tentang keluarga, kelompok, atau rasa memiliki dalam suatu masyarakat. Namun, hubungan antara bahasa dan budaya tidak sederhana: penggunaan kata tertentu tidak membuktikan bahwa semua penuturnya memiliki pandangan sosial yang sama.
Bahasa juga dipengaruhi oleh kebiasaan, generasi, situasi, dan hubungan antara orang yang berbicara. Karena itu, ungkapan yang lazim di rumah dapat terasa berbeda saat digunakan dalam rapat, wawancara, atau percakapan dengan orang yang belum akrab.
Mengapa bentuk yang terlalu merendahkan diri makin sering terdengar?
Dalam bahasa Korea, bentuk sopan dan tingkat tutur digunakan untuk menunjukkan hubungan sosial, misalnya usia, jabatan, atau tingkat keakraban. Sistem seperti ini disebut tingkat kesopanan bahasa (pilihan bentuk kata yang berubah sesuai hubungan pembicara dengan lawan bicara). Keinginan untuk terdengar sopan dapat membuat orang memakai bentuk yang merendahkan diri lebih sering daripada yang diperlukan.
Akibatnya, uri dan jeohui terkadang bercampur. Dalam acara bincang-bincang, misalnya, seseorang mungkin mengatakan “kami” dengan bentuk merendahkan diri ketika berbicara kepada penonton, meski lawan bicaranya di studio adalah rekan satu kelompok. Pendengar dapat menangkap ungkapan itu sebagai bentuk sopan kepada penonton, lalu menggunakannya dalam situasi lain yang sebenarnya membutuhkan kata yang mencakup semua pihak.
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi karena orang lupa aturan. Bahasa selalu bergerak mengikuti kebiasaan baru, sementara tekanan sosial juga dapat memengaruhi pilihan kata. Keinginan untuk menghindari kesan sombong atau terlalu akrab, misalnya, bisa membuat seseorang memilih bentuk yang lebih merendahkan diri meskipun hubungan antarpihak tidak menuntutnya.
Kesopanan yang berlebihan dapat mengaburkan makna
Jika setiap percakapan formal dipenuhi bentuk merendahkan diri, makna tentang siapa yang termasuk dalam kelompok dapat menjadi kabur. Atasan bisa terdengar seperti orang luar perusahaan; sesama anggota tim seolah-olah berasal dari kelompok berbeda. Karena itu, kesopanan bukan hanya soal memilih kata yang paling rendah hati, tetapi juga soal menggambarkan hubungan secara tepat.
Pedoman bahasa Korea menyarankan penggunaan bentuk merendahkan diri untuk menyebut toko, sekolah, atau perusahaan ketika berbicara kepada orang luar. Namun, aturan seperti itu dapat disalahpahami seolah-olah bentuk tersebut wajib digunakan kepada setiap orang yang lebih tua atau berpangkat lebih tinggi. Dalam praktiknya, hubungan antara pembicara, pendengar, dan kelompok yang dibicarakan tetap perlu dipertimbangkan.
Cara memilih kata yang lebih tepat
Saat ragu, pertanyaan sederhana dapat membantu: apakah orang yang mendengarkan termasuk dalam kelompok yang sedang dibicarakan? Jika ya, bentuk yang mencakup pembicara dan pendengar biasanya lebih sesuai. Jika tidak, bentuk yang mengecualikan lawan bicara dapat digunakan ketika konteksnya memang membedakan kelompok mereka.
- Bicarakan keluarga sendiri: bentuk “ibu kami” dalam bahasa Korea dapat bermakna “ibu saya” dalam bahasa Indonesia.
- Bicarakan perusahaan bersama rekan kerja: pilih bentuk yang berarti “perusahaan kita” jika lawan bicara juga bagian dari perusahaan itu.
- Bicarakan negara kepada sesama warga: gunakan bentuk yang berarti “negara kita”, karena kedua pihak sama-sama menjadi bagian darinya.
- Bicarakan kelompok sendiri kepada orang luar: bentuk “kami” yang tidak mencakup pendengar dapat menjadi pilihan yang tepat.
Tidak ada satu padanan yang cocok untuk semua bahasa dan situasi. Terjemahan terbaik adalah terjemahan yang menjaga maksud, hubungan sosial, dan siapa saja yang termasuk dalam pembicaraan—bukan sekadar menyalin bentuk kata dari bahasa asal.
Pada akhirnya, pilihan kata menunjukkan siapa yang kita rangkul
Perbedaan antara “kami” dan “kita” tampak kecil, tetapi dapat mengubah batas kelompok dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Korea, penggunaan kata yang bermakna “kami” untuk keluarga menunjukkan bahwa bahasa dapat membingkai seseorang sebagai bagian dari lingkungan yang lebih luas, walaupun hal yang dibicarakan secara praktis adalah miliknya sendiri.
Sebaliknya, ketika membicarakan negara atau perusahaan bersama, bentuk yang mengecualikan pendengar dapat membuat komunitas bersama terdengar seperti milik satu pihak saja. Memilih kata yang tepat bukan sekadar mengikuti aturan tata bahasa; pilihan itu membantu menjelaskan hubungan antara orang yang berbicara dan orang yang mendengarkan.
Bahasa akan terus berubah seiring perubahan masyarakat. Namun, memahami perbedaan antara bentuk yang mencakup dan yang mengecualikan lawan bicara dapat membantu kita berbicara dengan lebih jelas—dan mengingat siapa yang sebenarnya termasuk dalam kata “kita”.



















