Melihat yang biasa dengan mata baru

Dalam perjalanan menuju Namhae, di Korea Selatan, sebuah bus melaju melewati pesisir. Seorang penumpang yang datang dari luar daerah melihat laut biru terbentang di balik jendela, lalu mengangkat telepon untuk merekamnya. Namun bus terus bergerak cepat, membuat pemandangan yang ingin diabadikan itu segera tertinggal.

Seorang perempuan di kursi belakang tertawa kecil dan berkomentar bahwa ia juga akan merekam pemandangan seperti itu, padahal laut tersebut dilihatnya setiap hari. Baginya, laut bukan sesuatu yang perlu dicari atau dikunjungi khusus, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pemandangan yang terasa istimewa bagi seorang pendatang bisa menjadi latar biasa bagi orang yang hidup di sana. Perbedaan itu bukan terletak pada lautnya, melainkan pada cara masing-masing orang memandangnya.

Perempuan itu lalu menyarankan agar penumpang tersebut merekam jembatan Namhae. Penumpang lain menambahkan bahwa jembatan itu paling indah dilihat ketika bus melintas dari arah tertentu. Saran sederhana tersebut menunjukkan bahwa warga setempat mengenali bukan hanya objek yang menarik, tetapi juga sudut dan waktu terbaik untuk menikmatinya.


Pemandangan, ingatan, dan hubungan antarmanusia

Di bawah sinar matahari yang kuat, permukaan laut berkilau seperti ditaburi serpihan perak. Kilau itu begitu jelas hingga mudah dibayangkan kembali setelah perjalanan berakhir. Hal yang tampak sebentar dari jendela bus dapat tinggal lama dalam ingatan, terutama ketika pengalaman itu terhubung dengan percakapan dan suasana di sekitarnya.

Perempuan-perempuan itu juga bercerita bahwa awal April adalah waktu yang indah untuk datang, ketika bunga sakura memenuhi kawasan tersebut. Salah seorang membawa sampul telepon bergambar lukisan Vincent van Gogh, Malam Berbintang di Atas Rhône. Lukisan yang menggambarkan pemandangan malam di Prancis itu, tanpa diduga, menjadi penghubung kecil antara karya seni jauh dan kehidupan sehari-hari di pesisir Korea.

Perjalanan dengan kereta dan bus selama sekitar lima jam memang lebih lama daripada perjalanan udara. Namun, di dalamnya terdapat percakapan spontan dengan orang-orang yang tidak dikenal—sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang atau diperoleh dari perjalanan yang lebih cepat. Dalam bahasa Korea, kehangatan semacam ini sering dikaitkan dengan jeong, yaitu rasa keterikatan dan perhatian yang tumbuh melalui hubungan sehari-hari.

Pengalaman itu mengingatkan bahwa bepergian bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kita juga melihat bagaimana orang-orang setempat memahami lingkungan mereka, apa yang mereka anggap indah, dan cerita apa yang mereka pilih untuk dibagikan kepada orang asing.

Keindahan dapat menjadi bahan bakar kreativitas

Di Namhae, rangkaian acara juga mencakup pertemuan di dua perpustakaan. Di antara para peserta ada seorang perempuan muda dari Indonesia, seorang pianis yang pernah belajar di Rusia, serta seorang ibu dan anak perempuan yang baru saja pindah dari kawasan dekat Seoul.

Anak perempuan itu duduk di barisan depan dan bercita-cita menulis lagu. Keindahan yang ia temui di tempat baru—laut, bunga, perubahan cahaya, serta kehidupan masyarakat setempat—dapat menjadi bahan bagi musiknya kelak. Pengalaman seperti itu sulit digantikan oleh pelajaran di ruang kelas saja: seseorang perlu mengamati, mendengar, dan merasakan dunia secara langsung.

Tatapan sebagai awal cinta dan konflik

Gagasan tentang melihat juga hadir dalam karya sastra Oscar Wilde, Salome. Tokoh Salome menginginkan nabi Yokanaan, tetapi keinginannya ditolak. Setelah menari di hadapan Raja Herodes dan memperoleh apa yang dimintanya sebagai hadiah, Salome berbicara kepada kepala Yokanaan.

“Seandainya kau melihatku, kau akan mencintaiku. Aku melihatmu, dan aku mencintaimu.”

Dalam drama tersebut, para tokoh terus mengamati satu sama lain. Herodias memperhatikan Herodes; kepala pengawal dan Herodes memandang Salome; sementara Salome mengarahkan hasratnya kepada Yokanaan. Tatapan itu bukan sekadar gerakan mata. Ia menunjukkan siapa yang menginginkan siapa, siapa yang memiliki kuasa, dan siapa yang menolak untuk membalas perasaan tersebut.

Kisah Salome memperlihatkan bagaimana melihat dapat berubah menjadi keinginan yang semakin kuat. Kita dapat mengalami hal serupa dalam bentuk yang lebih ringan: seseorang yang awalnya terasa asing bisa tampak semakin menarik setelah sering kita lihat di layar atau temui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, melihat tidak otomatis berarti memahami. Tatapan dapat membuka kedekatan, tetapi juga dapat memicu salah paham, obsesi, atau konflik.

Kata sehari-hari menyimpan gagasan tentang melihat

Dalam banyak bahasa, tindakan melihat berkaitan erat dengan perhatian dan pemahaman. Ungkapan bahasa Inggris “I see”, misalnya, dapat berarti “saya mengerti”, bukan hanya “saya melihat”. Artinya, mata menangkap sesuatu, lalu pikiran mencoba mengenali dan memahaminya.

Kita juga sering meminta orang lain untuk melihat ketika ingin menarik perhatian: “Lihat ke sini,” atau “Coba perhatikan.” Dalam percakapan, saling menatap dapat membantu seseorang merasa didengarkan. Sebaliknya, menghindari pandangan kadang membuat orang lain merasa diabaikan. Tentu saja, makna tatapan berbeda-beda menurut situasi dan kebiasaan budaya, tetapi tindakan melihat kerap menjadi langkah pertama dalam komunikasi.

Dari satu tatapan menjadi opera empat jam

Dalam opera Richard Wagner, Tristan dan Isolde, awal kisah cinta tragis itu bertumpu pada sebuah tatapan. Isolde mengangkat pedang terhadap Tristan, yang telah membunuh tunangannya. Namun, ketika mata mereka bertemu dan Tristan menatapnya dengan intens, Isolde kehilangan keteguhan. Pedang yang dipegangnya terjatuh, dan permusuhan mulai berubah menjadi cinta.

Peristiwa itu berlangsung hanya sesaat dalam cerita. Wagner kemudian mengembangkan momen tersebut menjadi sebuah opera yang durasinya sekitar empat jam. Salah satu alat musik yang dipakainya adalah motif tatapan: rangkaian bunyi yang dikaitkan dengan pertemuan mata Tristan dan Isolde. Motif ini muncul kembali dan berubah-ubah, sehingga penonton terus diingatkan pada perasaan yang bermula dari pandangan singkat itu.

  • Motif tatapan adalah pola musik yang mewakili gagasan atau perasaan tertentu. Ketika pola itu kembali, pendengar dapat mengenali hubungan dengan momen sebelumnya.
  • Akor Tristan adalah susunan nada yang muncul pada bagian awal karya dan terasa tegang, seolah belum menemukan tempat untuk berhenti. Dalam musik, akor berarti beberapa nada yang dibunyikan bersamaan.
  • Pengulangan dan perubahan bunyi membantu Wagner memperpanjang ketegangan emosional, seperti sebuah kenangan yang terus muncul kembali dalam pikiran seseorang.

Akor Tristan sering dibicarakan karena kesannya yang gelisah dan belum tuntas. Alih-alih memberi rasa selesai dengan cepat, musiknya membuat pendengar menunggu kelanjutan. Perasaan itu sejalan dengan kisah dua tokoh yang tertarik satu sama lain tetapi terjebak dalam keadaan yang menyakitkan.

Mengapa momen kecil dapat menopang kisah besar?

Dalam kehidupan sehari-hari, satu tatapan belum tentu mengubah hidup seseorang. Namun, dalam seni, momen kecil dapat menjadi lambang bagi perubahan batin yang luas. Penulis dapat mengembangkan satu pertemuan menjadi sebuah novel; pelukis dapat mengabadikan satu pemandangan; dan komponis dapat mengulang serta mengolah beberapa nada untuk membangun dunia emosi yang panjang.

Opera Wagner menunjukkan cara kerja itu dengan jelas. Peristiwa awalnya sederhana—dua pasang mata bertemu—tetapi musik membuat kita kembali mendengarnya dari berbagai sisi. Setiap kemunculan motif dapat terasa berbeda karena cerita dan perasaan tokohnya telah berubah.

Melihat berarti memberi kesempatan untuk memahami

Kisah-kisah ini memiliki nada yang berbeda. Dalam Salome, tatapan berkaitan dengan hasrat dan penolakan; dalam Tristan dan Isolde, ia menjadi titik awal cinta yang tragis. Sementara itu, di perjalanan menuju Namhae, melihat laut dan jembatan membuka ruang bagi percakapan antara pendatang dan warga setempat.

Ketiganya mengingatkan bahwa melihat bukan tindakan yang sepenuhnya pasif. Perhatian kita dapat membuat sesuatu terasa penting, memunculkan rasa ingin tahu, atau mendorong kita untuk mendekati orang lain. Ketika kita benar-benar memperhatikan, kita mungkin melihat keindahan yang sebelumnya terlewat—atau memahami mengapa pemandangan yang biasa bagi seseorang begitu berarti baginya.

Saat perjalanan pulang, jembatan Namhae tampak berbeda ketika dilihat dari arah yang disarankan para penumpang tadi. Lampu-lampunya memantul di permukaan air pada senja hari. Pemandangan itu seolah menjawab ajakan untuk melihat: bukan hanya menatap, tetapi juga menerima sudut pandang orang lain.

Banyak hal bermula ketika seseorang memperhatikan. Namun, kedekatan sering tumbuh ketika pandangan itu dibalas—ketika dua orang, atau dua cara hidup, benar-benar saling melihat.