Ambisi Baru di Balik Proyek Perluasan Raksasa

Galeri Nasional London baru saja mengumumkan pemenang kompetisi desain untuk "Project Domani", sebuah proyek perluasan ambisius senilai £750 juta (sekitar 15 triliun rupiah). Gedung baru yang dirancang oleh firma arsitek ternama, Kengo Kuma and Associates, akan menggantikan blok kantor lama di Orange Street. Perluasan ini bertujuan untuk menunjukkan kesinambungan sejarah lukisan dalam tradisi Barat secara lebih lengkap.

Namun, langkah besar ini kembali memicu pertanyaan lama yang telah menghantui dunia seni London selama puluhan tahun: Di mana batas antara koleksi seni klasik dan seni modern? Persaingan wilayah ini melibatkan dua raksasa, yaitu Galeri Nasional dan museum Tate.


Kapan Pelukis Menjadi 'Old Master'?

Salah satu perdebatan utama adalah mengenai istilah Old Master (sebutan untuk pelukis Eropa yang sangat terampil dan diakui secara internasional yang berkarya sebelum tahun 1800-an). Dahulu, ada aturan tidak tertulis bahwa karya seni akan 'lulus' ke Galeri Nasional setelah mencapai usia 100 tahun.

"Bagi saya, hanya akan selalu ada satu koleksi nasional. Membaginya secara kaku tidak akan menguntungkan siapa pun."

Model sejarah yang digunakan sering kali meniru Paris pada abad ke-19, di mana sebuah museum berfungsi sebagai 'purgatori' (tempat penantian sementara bagi seniman modern yang sedang diuji waktu), sebelum akhirnya masuk ke 'surga' (galeri seni klasik utama) setelah mereka meninggal dan karyanya dianggap abadi.


Pergeseran Definisi 'Tradisi Barat'

Galeri Nasional kini mulai melangkah keluar dari zona nyamannya yang hanya mengoleksi lukisan Eropa Barat. Pada tahun 2014, mereka membeli lukisan karya George Bellows, seorang seniman Amerika yang belum pernah menginjakkan kaki di Eropa. Langkah ini dianggap sebagai 'serangan' terhadap wilayah kekuasaan Tate yang biasanya menangani seni modern dan internasional.

Beberapa poin penting dari perubahan kebijakan ini meliputi:

  • Ekspansi Geografis: Fokus pada 'tradisi Barat' secara luas, termasuk Amerika, bukan hanya Eropa.
  • Perebutan Koleksi: Ketegangan saat Galeri Nasional menarik kembali lukisan Inggris yang selama ini dipajang di Tate.
  • Persaingan Pendonor: Kekhawatiran bahwa perluasan ini akan merebut perhatian kolektor dan penyumbang dana dari museum lain.

Masa Depan dan Ruang Publik Baru

Arsitek Kengo Kuma menjanjikan bahwa gedung baru ini akan menciptakan jalur pejalan kaki baru yang menghubungkan Leicester Square dan Trafalgar Square. Selain itu, ruang baru ini akan digunakan untuk pameran sementara dan program residensi seniman (program di mana seniman tinggal dan bekerja di dalam museum untuk jangka waktu tertentu).

Meskipun menjanjikan pembaruan, menyatukan tiga gedung galeri menjadi satu kesatuan yang harmonis tetap menjadi tantangan besar. Dunia seni akan terus mengamati bagaimana persaingan antara 'klasik' dan 'modern' ini akan membentuk wajah budaya London di masa depan.