Membaca nyaring, bukan sekadar duduk bersama

Sepuluh warga berusia 60–70-an di Anseong, Korea Selatan, telah berkumpul dua kali sebulan selama tujuh tahun dalam klub baca senior bernama Cheongmihoe. Mereka tidak hanya membaca buku, tetapi juga menulis, menggambar, mengunjungi museum sastra dan toko buku lokal, serta membacakan cerita untuk anak-anak. Kegiatan membaca bersama itu menjadi bagian penting dari kehidupan mereka setelah memasuki usia lanjut.

Pada pertemuan di Perpustakaan Iljuk, para anggota duduk dalam dua kelompok kecil dan membaca dengan suara lantang. Mereka memilih buku yang berbeda, termasuk buku tentang harapan dan kehidupan. Ada anggota yang berdiri karena merasa lebih mudah berkonsentrasi, sementara yang lain membaca sambil mengenakan kacamata baca.

“Kalau membaca sendiri di perpustakaan yang harus tenang, kadang saya mengantuk. Kalau membaca nyaring, saya tidak bisa tertidur karena giliran saya akan tiba,” kata salah seorang anggota.

Bagi mereka, membaca nyaring membuat kegiatan membaca lebih aktif. Ketika satu orang membaca, anggota lain mendengarkan dan mengikuti alur pikiran penulis. Cara ini juga memberi waktu bagi setiap orang untuk menyusun pendapat sebelum membicarakan isi buku.


Buku membuka jalan bagi percakapan yang lebih luas

Setelah sekitar satu jam membaca, para anggota melanjutkan pertemuan dengan bertukar pikiran. Mereka tidak sekadar menyampaikan apakah sebuah buku disukai atau tidak, tetapi menghubungkan gagasan di dalamnya dengan pengalaman sehari-hari.

Salah satu anggota, Matilda, bercerita tentang sapi yang dipelihara keluarganya. Saat musim panas menjadi sangat panas, sapi-sapi itu makan lebih sedikit. Seekor sapi yang sebelumnya berbobot sekitar 900 kilogram turun menjadi 690 kilogram. Pengalaman tersebut membuatnya merasakan dampak perubahan iklim secara langsung, bukan sekadar sebagai istilah yang dibaca di berita.

Ia mengatakan bahwa setelah membaca buku tentang lingkungan dan kehidupan, dirinya semakin memikirkan tindakan yang dapat dilakukan. Misalnya, ia berusaha menghemat penggunaan plastik dan membersihkan kantong plastik yang telah dipakai agar dapat digunakan kembali. Anggota lain ikut membahas virus, perubahan iklim, serta hubungan antara manusia dan alam.

Percakapan mereka berlangsung dengan tenang. Mereka tidak harus sepakat dalam segala hal, tetapi tetap berusaha mendengarkan. Sikap itu penting karena diskusi memberi kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan pandangan tanpa takut langsung disalahkan.

  • Pengalaman pribadi membantu mereka memahami gagasan dalam buku secara konkret.
  • Perbedaan pendapat menjadi bahan untuk berpikir, bukan alasan untuk memutus percakapan.
  • Kebiasaan mendengarkan membuat setiap anggota merasa pendapatnya dihargai.

Pertemanan yang mengurangi rasa terasing

Sebagian besar anggota Cheongmihoe pernah tinggal di kota seperti Seoul atau Incheon sebelum pindah ke daerah pedesaan. Ada yang datang untuk bertani atau beternak, ada pula yang mengikuti perubahan tempat kerja pasangan. Memulai kehidupan baru di lingkungan yang asing bisa membuat seseorang kehilangan jaringan pertemanan dan merasa kesepian.

Jo Seong-il, yang pernah bekerja sebagai pustakawan sebelum pensiun, mengatakan bahwa kelompok membaca membantu anggotanya menghadapi berbagai tantangan usia lanjut. Kesehatan, rasa sepi, dan berkurangnya kepercayaan diri dapat menjadi beban. Pertemuan rutin memberi mereka kegiatan yang dinantikan sekaligus ruang untuk saling mendukung.

Menurut para anggota, percakapan di klub itu juga terasa berbeda dari pertemuan sosial yang hanya berisi pembicaraan tentang keberhasilan anak atau harta benda. Mereka punya topik bersama yang dapat dibicarakan, mulai dari isi buku hingga pengalaman pribadi. Mereka membaca, tertawa, menghibur satu sama lain, dan perlahan membangun rasa percaya diri.

Membaca bersama memberi mereka lebih dari sekadar pengetahuan: kegiatan itu menghadirkan jadwal, teman bicara, dan tempat untuk merasa diterima.

Mengungkapkan rasa takut dan menemukan pemahaman

Beberapa bagian buku dapat memancing percakapan yang lebih pribadi. Saat membahas kalimat bahwa pada akhirnya manusia menjalani hidupnya sendiri, para anggota menyampaikan pandangan yang berbeda tentang kesendirian. Ada yang merasa masa setelah pensiun memberinya kebebasan untuk lebih memperhatikan diri sendiri. Ada pula yang memang menikmati waktu sendirian.

Namun, seorang anggota, Baek Seong-ho, mengaku takut menghadapi kematian seorang diri. Ia terkadang terbangun pada dini hari dan memikirkan bagaimana dirinya kelak menghadapi akhir hidup. Ia mengatakan bahwa kekhawatiran itu belum pernah disampaikan sebelumnya.

Pengakuan seperti itu menunjukkan bahwa percakapan kelompok tidak selalu ringan. Membahas buku dapat menjadi cara untuk mulai berbicara tentang hal-hal yang sulit diungkapkan secara langsung. Ketika anggota lain mendengarkan tanpa menghakimi, seseorang bisa merasa bahwa perasaannya tidak harus ditanggung sendirian.

Membaca dan berbicara bersama juga memberi kesempatan kepada anggota untuk memikirkan kembali sikap mereka sendiri. Mereka tidak hanya belajar memahami maksud penulis, tetapi juga melihat bagaimana pengalaman hidup masing-masing membentuk cara mereka menafsirkan sebuah kalimat.


Pasangan yang menemukan sisi baru satu sama lain

Klub tersebut juga menjadi ruang untuk memperbarui hubungan yang telah berlangsung puluhan tahun. Choi Yong-seok dan istrinya, Park Hyeon-ju, sama-sama mengikuti Cheongmihoe. Choi lebih dulu pindah ke Anseong karena pekerjaan. Selama sekitar sepuluh tahun sebelum istrinya menyusul, ia mengaku menjalani kehidupan yang terbatas pada rumah dan tempat kerja, serta membaca sendirian.

Ketika pertama kali bergabung sekitar lima tahun lalu, ia melakukannya terutama untuk menemani istrinya. Namun, membaca buku yang sama dan membicarakannya membuat ia menyadari bahwa selama ini dirinya belum benar-benar mengenal cara istrinya memandang dunia.

Choi mengatakan, pada masa muda ia terlalu berfokus pada tujuan sehingga kurang memperhatikan pikiran dan nilai-nilai orang yang berada di dekatnya. Diskusi buku membantunya memahami alasan di balik tindakan istrinya. Menurutnya, pemahaman itu juga mengurangi potensi konflik.

“Ketika kita membaca buku yang sama dan membicarakannya, kita bisa mengetahui nilai-nilai yang dipegang pasangan. Kita lalu lebih memahami mengapa ia bertindak dengan cara tertentu,” ujarnya.

Contoh mereka memperlihatkan bahwa membaca bersama dapat menjadi kegiatan sederhana untuk memulai percakapan yang mungkin tidak muncul dalam rutinitas sehari-hari. Buku menyediakan topik bersama, sementara pertanyaan dan pendapat tentang isinya membuka jalan untuk berbicara tentang diri sendiri.

Menjaga pikiran tetap terbuka saat bertambah usia

Seorang anggota, Lee Seung-hyeon, mengaitkan membaca nyaring dan berdiskusi dengan upaya menjaga ingatan. Ia menyebut korteks frontal (bagian otak yang berperan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan) serta hipokampus (bagian otak yang membantu pembentukan ingatan). Aktivitas membaca dan berbicara dapat menjadi latihan mental, meski kegiatan tersebut bukan jaminan untuk mencegah demensia.

Cheongmihoe juga melakukan berbagai kegiatan lain. Para anggotanya pernah mementaskan drama di ruang pertunjukan kecil perpustakaan yang memiliki 88 kursi, belajar memainkan alat musik ocarina, dan mengadakan konser kecil. Mereka bahkan berencana menggelar pameran karya tulisan dan gambar yang dibuat sendiri.

Kegiatan-kegiatan itu memperlihatkan bahwa usia lanjut tidak harus berarti berhenti belajar atau berkarya. Anggota kelompok tetap mencoba hal baru, tampil di depan orang lain, dan mengambil bagian dalam kehidupan komunitas. Yang mereka dapatkan bukan hanya pengalaman pribadi, melainkan juga kesempatan untuk bekerja sama.

  • Membaca bersama melatih perhatian dan memberi bahan untuk percakapan.
  • Menulis, menggambar, bermain musik, dan tampil memberi ruang untuk mencoba kemampuan baru.
  • Kegiatan sukarela, seperti membacakan buku kepada anak-anak, menghubungkan kelompok dengan warga sekitar.

Menjadi orang tua yang bijaksana, bukan terkurung dalam pendapat sendiri

Choi mengibaratkan kelompok membaca sebagai cermin. Seiring bertambahnya usia, seseorang bisa semakin terbiasa dengan pendapatnya sendiri dan sulit melihat sudut pandang lain. Buku memperlihatkan bahwa ada cara berbeda untuk memahami suatu persoalan, sementara anggota kelompok membantu menguji dan memperluas pemikiran itu.

Baginya, membaca bersama mengajukan pertanyaan penting: apakah seseorang akan menjadi orang tua yang hanya mempertahankan pendapatnya, atau tetap bersedia mendengarkan dan berempati kepada orang lain? Ia percaya bahwa kebiasaan membaca dan berdiskusi dapat memengaruhi pilihan tersebut.

Pengalaman Cheongmihoe menunjukkan bahwa sebuah klub baca tidak perlu menjadi kegiatan yang rumit. Pertemuan teratur, beberapa buku, dan kesediaan untuk mendengarkan dapat membentuk hubungan yang berarti. Bagi orang yang baru pindah, telah pensiun, atau ingin memiliki ruang sosial yang lebih hangat, kelompok kecil seperti ini bisa menjadi cara untuk bertemu orang lain sekaligus terus belajar.

“Semakin bertambah usia, kita mudah terkurung dalam pikiran sendiri. Membaca membantu kita melihat pikiran kita dan memahami bahwa orang lain bisa berpikir berbeda.”

Bagi para anggota Cheongmihoe, menjadi dewasa bukan hanya soal bertambahnya umur. Menjadi dewasa juga berarti tetap ingin tahu, berani berbagi kerentanan, dan bersedia membuka hati terhadap pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa membaca bersama membantu menjaga sikap itu tetap hidup.