Rencana demonstrasi di depan rumah aktor

Kelompok Shin Jayu Yeondae mengumumkan rencana menggelar demonstrasi di depan rumah aktor Yoo Hae-jin. Aksi itu berkaitan dengan film “Assassins”, yang baru tayang dan menjadi bahan perdebatan politik di Korea Selatan. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Kim Sang-jin, pemimpin kelompok itu, melalui unggahan di media sosial pada 1 Oktober 2026.

Kim menyebut bahwa pemberitahuan resmi untuk mengadakan aksi telah diajukan. Berdasarkan informasi dalam dokumen yang ia tampilkan, demonstrasi direncanakan berlangsung 3 hingga 30 Oktober, dengan jumlah peserta yang didaftarkan sebanyak 20 orang.

Rencana yang diumumkan mencakup penggunaan dua kendaraan siaran dan panggung portabel sederhana. Namun, pengajuan pemberitahuan tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana aksi itu akan berlangsung di lapangan.

Foto bangunan dan komentar tentang Yoo Hae-jin

Bersama gambar dokumen pengajuan, Kim juga mengunggah foto bagian luar sebuah bangunan yang diduga sebagai tempat tinggal Yoo. Ia mengatakan bahwa jika demonstrasi digelar, pihak manajemen aktor itu mungkin akan memindahkan tempat tinggalnya. Kim kemudian menyatakan ingin menunjukkan bahwa Yoo “pergi dari rumah dan melarikan diri”.

Pernyataan tersebut menjadikan rencana aksi bukan hanya bentuk kritik terhadap film, tetapi juga menyasar kehidupan pribadi seorang aktor. Menyebarkan gambar tempat yang diduga sebagai rumah seseorang dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai privasi dan keselamatan, terutama ketika gambar itu dibagikan bersamaan dengan pengumuman demonstrasi.

Apa arti “pemberitahuan demonstrasi”?

Pemberitahuan demonstrasi adalah dokumen yang diajukan untuk memberi tahu pihak berwenang mengenai rencana aksi di ruang publik. Dokumen itu biasanya memuat informasi seperti waktu, lokasi, jumlah peserta, dan perlengkapan yang direncanakan. Dengan kata lain, seperti mendaftarkan rencana sebuah acara, pengajuan tersebut menjelaskan rencana penyelenggara, tetapi tidak berarti seluruh detailnya sudah terlaksana.


Kelompok tersebut pernah menggelar aksi politik

Kim Sang-jin sebelumnya memimpin demonstrasi di Pyeongsan, sebuah desa di Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, tempat mantan Presiden Moon Jae-in tinggal. Ia juga pernah menyerukan pembongkaran patung “Perempuan Penghibur” di depan bekas Kedutaan Besar Jepang di Seoul.

Pada 2022, Kim menjadi sorotan setelah memperlihatkan hadiah Chuseok yang diterimanya dari Presiden saat itu, Yoon Suk-yeol, dan istrinya. Pada tahun yang sama, setelah tragedi Itaewon, ia menggelar aksi dalam jangka waktu panjang di dekat lokasi tempat keluarga korban berkumpul untuk berduka. Keluarga korban menyampaikan keberatan atas aksi tersebut.

Setelah peristiwa 3 Desember yang disebut dalam laporan sebagai pemberontakan, Kim juga mengadakan demonstrasi dengan slogan “Yoon Again”. Rangkaian aktivitas itu menunjukkan bahwa kelompoknya telah terlibat dalam sejumlah aksi politik yang kontroversial, meski setiap demonstrasi memiliki konteks dan sasaran tersendiri.

  • Aksi sebelumnya mencakup demonstrasi di dekat rumah mantan presiden.
  • Kelompok tersebut juga pernah menggelar kegiatan terkait patung Perempuan Penghibur.
  • Setelah tragedi Itaewon, aksi di dekat tempat keluarga korban berkumpul mendapat protes dari keluarga yang berduka.
  • Belakangan, kelompok itu menyelenggarakan demonstrasi dengan slogan “Yoon Again”.

Film “Assassins” memicu perdebatan politik

Film “Assassins” mulai diputar pada 23 September 2026. Film itu mengangkat peristiwa penembakan Yuk Young-soo, istri mantan Presiden Park Chung-hee. Setelah penayangannya, sejumlah tokoh politik, termasuk dari Partai Kekuatan Rakyat, menyatakan keberatan terhadap penggambaran film tersebut.

Para pengkritik menilai film itu memberi kesan bahwa Park Chung-hee terlibat dalam peristiwa penembakan tersebut. Mereka bahkan menyinggung kemungkinan penghentian penayangan dan sanksi hukum. Pihak film, di sisi lain, sebelumnya menyatakan bahwa karya itu tidak dibuat dengan anggapan bahwa Park berada di balik peristiwa tersebut.

Perbedaan pandangan mengenai film sejarah bukan hal yang sederhana. Sebuah karya dapat menggunakan kebebasan artistik untuk menyusun cerita, sementara penonton dan tokoh politik dapat memperdebatkan ketepatan penggambaran peristiwa nyata. Namun, pembicaraan mengenai isi film berbeda dari serangan terhadap orang yang bermain di dalamnya.

Dari kritik karya ke serangan terhadap pribadi

Kontroversi kemudian meluas kepada para pembuat film, para aktor, dan tokoh terkenal yang memberikan penilaian positif terhadap film. Anggota parlemen Partai Kekuatan Rakyat, Joo Jin-woo, menyebut penampilan Yoo Hae-jin sebagai “wajah Korea Utara”. Ucapan yang mengacu pada rupa fisik itu dikritik sebagai serangan pribadi.

Setelah menuai kecaman, Joo mengatakan bahwa istilah tersebut dimaksudkan untuk menuduh Yoo berpihak kepada Korea Utara, dan ia menyebut ucapannya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana kritik politik terhadap sebuah film dapat berubah menjadi serangan yang menargetkan identitas atau penampilan seseorang.

Kritik terhadap isi film dan komentar yang merendahkan penampilan aktor adalah dua hal berbeda. Ketika perdebatan berpindah dari karya ke kehidupan pribadi atau rupa seseorang, risikonya adalah diskusi publik berubah menjadi intimidasi dan penghinaan.

Kebebasan berekspresi dan batas perlindungan privasi

Demonstrasi dan kritik terhadap film merupakan bagian dari perdebatan publik. Namun, rencana menggelar aksi di depan rumah seseorang menimbulkan persoalan yang berbeda dari demonstrasi di ruang publik umum. Rumah adalah ruang privat, dan pengungkapan lokasi yang diduga sebagai tempat tinggal seseorang dapat membuat orang tersebut maupun orang-orang di sekitarnya merasa terancam.

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah seseorang berhak mengkritik film atau aktor. Masyarakat juga perlu mempertimbangkan cara menyampaikan kritik, lokasi aksi, dampak terhadap penghuni sekitar, serta apakah penyebaran informasi pribadi dapat memicu risiko keselamatan. Misalnya, demonstrasi di tempat publik yang jauh dari rumah dapat menyampaikan keberatan tanpa menjadikan tempat tinggal seseorang sebagai sasaran.

Hingga pengumuman tersebut dibuat, informasi yang tersedia menjelaskan rencana dan rincian yang diajukan oleh kelompok itu; bukan laporan bahwa demonstrasi telah berlangsung. Perkembangan berikutnya akan menunjukkan apakah aksi tersebut benar-benar digelar dan bagaimana pihak berwenang menanganinya. Polemik ini juga dapat memperpanjang perdebatan tentang batas antara kebebasan berekspresi, kritik politik, dan perlindungan individu dari serangan pribadi.