Setelah 55 Tahun, Ronald Kembali ke Jepang
McDonald’s Jepang mengumumkan bahwa maskot terkenalnya akan kembali menggunakan nama Ronald, bukan “Donald” seperti yang dikenal masyarakat Jepang selama lebih dari setengah abad. Pengumuman itu disampaikan melalui akun resmi perusahaan di X pada 1 Oktober 2026.
Dalam unggahan tersebut, seseorang bertanya, “Jadi, bagaimana dengan Donald?” Karakter berambut merah keriting dan berwajah seperti badut itu menjawab bahwa mulai hari itu namanya adalah Ronald.
“Mulai hari ini, namaku Ronald.”
Perubahan ini membuat nama yang dikenal di Jepang semakin dekat dengan nama maskot yang digunakan di banyak negara lain, yaitu Ronald McDonald. Meski tampak sederhana, keputusan tersebut mengakhiri kebiasaan lokal yang telah bertahan sejak McDonald’s mulai beroperasi di Jepang.
Mengapa Namanya Berubah Menjadi “Donald”?
McDonald’s memasuki pasar Jepang pada 1971. Saat itu, nama “Ronald McDonald” dinilai sulit dilafalkan secara alami dalam bahasa Jepang. Karena itu, perusahaan menggunakan nama “Donald” untuk karakter tersebut, dengan mengambil bagian akhir dari nama keluarga McDonald yang sudah lebih akrab bagi masyarakat.
Dalam bahasa Jepang, bunyi nama asing sering disesuaikan dengan sistem pelafalan setempat. Proses penyesuaian bunyi dan penulisan nama asing seperti ini disebut transliterasi (mengubah nama dari satu sistem bahasa ke sistem bahasa lain agar lebih mudah dibaca atau diucapkan). Nama tersebut kemudian dikenal dalam pelafalan Jepang sebagai “Ronald McDonald”, tetapi karakter maskotnya tetap dipanggil “Donald”.
Pilihan itu menunjukkan cara perusahaan global menyesuaikan merek dengan kebiasaan lokal. Nama yang terasa mudah diucapkan dapat membantu pelanggan mengingat karakter, misalnya saat orang tua mengajak anak mereka makan atau ketika anak-anak membicarakan maskot yang mereka lihat di restoran.
- Nama internasional karakter tersebut adalah Ronald McDonald.
- Di Jepang, ia selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai Donald.
- Sebutan “Donald” berakar pada keputusan penamaan saat McDonald’s mulai beroperasi di Jepang pada 1971.
Maskot sebagai Bagian dari Pengalaman Restoran
Restoran cepat saji kerap menggunakan karakter untuk membuat merek lebih mudah dikenali dan terasa ramah, terutama bagi anak-anak dan keluarga. Maskot dapat muncul dalam iklan, acara, kemasan, atau dekorasi restoran. Dengan begitu, pengalaman makan tidak hanya berkaitan dengan menu, tetapi juga dengan tokoh yang mudah diingat.
Karakter seperti Ronald juga membantu perusahaan membangun identitas yang konsisten di berbagai tempat. Pelanggan mungkin melihat maskot yang sama di televisi, papan iklan, dan restoran. Namun, pengenalan yang luas bisa menjadi pedang bermata dua: karakter yang sangat dikenal juga dapat menarik perhatian publik ketika citra atau suasana sosial berubah.
Perubahan nama di Jepang menjadi contoh bahwa identitas merek tidak selalu tetap. Perusahaan dapat mempertahankan tokoh yang sama, tetapi menyesuaikan cara memperkenalkan atau menampilkan tokoh itu sesuai bahasa dan kebiasaan masyarakat setempat.
Ketika Maskot Menjadi Beban bagi Merek
Pengalaman perusahaan lain memperlihatkan bahwa karakter yang dirancang untuk menarik keluarga tidak selalu berhasil mencapai tujuan tersebut. Burger King, misalnya, pernah menggunakan karakter “The King”, sosok raja bertubuh besar dengan mahkota. Pada Maret, perusahaan itu menyatakan berpisah dengan karakter tersebut setelah menggunakannya dalam berbagai bentuk selama sekitar tujuh dekade.
Perusahaan mengangkat gagasan bahwa “raja yang baru adalah pelanggan”. Di sisi lain, mereka juga mengakui bahwa sebagian orang menganggap penampilan The King menyeramkan atau ganjil. Reaksi tersebut dapat membuat karakter itu terasa kurang cocok untuk menarik anak-anak dan keluarga, yang menjadi salah satu kelompok pelanggan penting bagi restoran cepat saji.
Kisah ini menegaskan bahwa popularitas saja tidak cukup. Karakter harus sesuai dengan suasana yang ingin dibangun oleh sebuah merek. Tokoh yang tampak lucu bagi sebagian pelanggan mungkin terasa mengganggu bagi pelanggan lain, terutama ketika selera dan persepsi publik berubah dari waktu ke waktu.
Ronald Pernah Menjauh dari Acara Publik
Maskot McDonald’s juga pernah terdampak oleh kejadian yang tidak berkaitan langsung dengan perusahaan. Pada 2016, sejumlah laporan mengenai orang-orang berpakaian badut yang dianggap mencurigakan memicu keresahan di beberapa wilayah Amerika Serikat, termasuk South Carolina. Ada laporan bahwa orang berkostum badut berusaha mendekati anak-anak atau menakut-nakuti warga di kawasan permukiman.
Di tengah suasana tersebut, McDonald’s menyatakan akan mempertimbangkan situasi saat menentukan kegiatan resmi Ronald. Kemunculan karakter itu dalam acara publik kemudian dikurangi secara signifikan. Perusahaan harus memperhitungkan bahwa penampilan Ronald sebagai badut dapat menimbulkan asosiasi yang tidak diinginkan ketika masyarakat sedang merasa khawatir terhadap orang berkostum serupa.
Peristiwa itu memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh konteks sosial terhadap citra sebuah karakter. Meski karakter tersebut sudah lama menjadi bagian dari identitas perusahaan, maknanya di mata publik dapat berubah karena peristiwa yang terjadi di luar kendali merek.
Patung KFC yang Hilang dan Mitos tentang “Kutukan”
Di Osaka, Jepang, patung Kolonel Sanders di depan sebuah gerai KFC juga pernah menjadi bagian dari kisah yang tidak biasa. Pada 1985, para pendukung tim bisbol Hanshin Tigers merayakan keberhasilan tim itu menjuarai Liga Tengah setelah penantian selama 21 tahun.
Dalam perayaan tersebut, sejumlah penggemar melompat ke sungai. Mereka juga mencari orang-orang yang dianggap mirip dengan para pemain. Ketika tidak menemukan seseorang yang mirip dengan pemukul asal Amerika Serikat Randy Bass, para penggemar mengambil patung Kolonel Sanders—pendiri KFC yang menjadi inspirasi karakter tersebut—dan melemparkannya ke sungai.
Patung itu tidak ditemukan selama 24 tahun. Ketika akhirnya ditemukan di dasar sungai pada 2009, kondisinya telah rusak parah. Setelah kejadian tersebut, muncul cerita rakyat perkotaan bahwa kesulitan Hanshin Tigers meraih gelar juara Japan Series berkaitan dengan “kutukan” karena patung Kolonel Sanders dibuang ke sungai.
Cerita patung KFC itu menjadi pengingat bahwa maskot dan lambang perusahaan dapat memperoleh makna baru di luar tujuan awalnya—bahkan menjadi bagian dari tradisi dan mitos penggemar.
Apa Arti Perubahan Nama Ini?
Kembalinya nama Ronald di Jepang bukan sekadar pergantian sebutan. Keputusan itu menandai perubahan setelah 55 tahun sebuah nama lokal digunakan untuk menyesuaikan karakter dengan kebiasaan berbahasa masyarakat setempat. Bagi pelanggan yang tumbuh dengan sebutan “Donald”, perubahan tersebut mungkin terasa seperti pertemuan kembali dengan nama yang sudah lama dikenal di luar Jepang.
Namun, nama baru tidak serta-merta menghapus sejarah panjang penggunaan nama lama. Dua sebutan itu mencerminkan perjalanan merek yang sama: satu dibentuk oleh strategi penyesuaian lokal, sementara yang lain menghubungkan karakter Jepang dengan identitas internasionalnya.
Ke depan, perusahaan akan menghadapi tantangan untuk memperkenalkan kembali nama Ronald tanpa mengabaikan kedekatan yang telah dibangun dengan pelanggan selama puluhan tahun. Kisah ini juga menunjukkan bahwa dalam dunia bisnis global, satu karakter dapat menjadi lebih dari sekadar alat promosi: ia bisa menjadi bagian dari ingatan masa kecil, budaya penggemar, dan perubahan cara masyarakat memandang sebuah merek.



















