Korea kembali meraih emas League of Legends

Tim Korea Selatan memenangi final League of Legends (LoL), gim strategi daring yang dimainkan oleh dua tim, dengan mengalahkan Taiwan pada 2 Oktober di Aichi Sky Expo, Tokoname, Jepang. Kemenangan itu mengantarkan Korea mempertahankan medali emas yang mereka raih pada Asian Games 2022 di Hangzhou.

Skuad Korea terdiri atas Lee Sang-hyeok, yang dikenal dengan nama panggung Faker, serta Choi Woo-je, Kim Geon-bu, Kim Geon-woo, Lee Min-hyeong, dan Ryu Min-seok. Bagi Faker, gelar ini menjadi emas Asian Games kedua secara beruntun.

“Saya senang dan bangga tim nasional esports Korea berhasil mempertahankan gelar,” kata Faker setelah final.

Meraih gelar tanpa turun sebagai pemain utama di final

Faker tidak masuk sebagai pemain utama dalam pertandingan final. Meski demikian, Korea tetap berhasil mengalahkan Taiwan dan meraih gelar. Ia mengakui bahwa mungkin ada rasa kecewa karena tidak banyak menunjukkan kemampuan bermainnya di partai penentuan, tetapi mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah membantu Korea mendapatkan emas.

Menurut Faker, ia telah berusaha sebaik mungkin sepanjang turnamen sehingga tidak menyesali proses yang dijalaninya. Pengalamannya tampil di tiga Asian Games juga membuatnya dapat membantu rekan setim melalui saran dan dukungan. Dalam olahraga beregu, peran seorang pemain tidak hanya ditentukan oleh berapa lama ia bermain: pengalaman dan ketenangan juga dapat membantu tim menghadapi tekanan.

Perjalanan Faker di Asian Games

Faker pertama kali tampil di Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, ketika League of Legends masih berstatus cabang demonstrasi (pertandingan yang diperkenalkan sebagai bagian dari acara, tetapi belum menjadi cabang resmi). Korea meraih perak saat itu. Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, yang digelar pada 2023 akibat perubahan jadwal, ia memenangi emas bersama tim Korea.

Kini, kemenangan di Jepang menambah satu lagi pencapaian besar dalam karier internasionalnya. Hasil tersebut juga menegaskan posisi Korea sebagai salah satu kekuatan utama dalam kompetisi League of Legends.


Dukungan penggemar membuat turnamen terasa istimewa

Sejak pagi, para penggemar memadati arena dengan kamera, kipas bertuliskan nama Faker, dan spanduk dukungan. Sebagian datang dari Korea, sementara penggemar di Jepang juga hadir untuk melihat pemain yang telah lama menjadi ikon esports tersebut. Sorakan mereka terdengar seperti suasana pertemuan penggemar seorang bintang hiburan.

Pemain dari negara lain pun mengenal reputasi Faker. Akash Chandilia, pemain hutan tim India yang pernah menghadapi Korea di babak penyisihan, menyamakan kesempatan bertemu Faker dengan bertemu Lionel Messi dalam sepak bola. Perbandingan itu menggambarkan betapa besar pengaruh Faker di kalangan pemain dan penggemar gim kompetitif.

Faker mengatakan ia merasa sangat berterima kasih setiap kali menerima dukungan dan menyadari bahwa bisa berdiri di panggung tersebut merupakan sebuah kehormatan.

Ia juga menilai minat terhadap esports di Asia terus berkembang. Selain penggemar, atlet dari cabang olahraga lain, sukarelawan, dan petugas acara turut meminta berfoto dengannya. Bagi Faker, perhatian itu menunjukkan bahwa perjalanan dan hasil yang telah dicapai mendapat sambutan luas.


Perdebatan tentang esports sebagai olahraga masih berlangsung

Popularitas esports meningkat, tetapi masih ada perbedaan pendapat mengenai apakah kompetisi gim dapat disebut olahraga. Perdebatan itu kembali muncul karena Asian Games menambahkan cabang-cabang esports. Keikutsertaan esports dalam edisi mendatang juga belum tentu terjamin; ada pembicaraan bahwa cabang ini mungkin tidak dipertandingkan pada Asian Games 2030 di Doha.

Faker mengakui bahwa pandangan masyarakat tentang esports memang beragam. Namun, ia berharap sisi positifnya semakin diperhatikan dan kompetisi dapat terus diselenggarakan demi para pemain serta penggemarnya.

Strategi, latihan, dan tekanan pertandingan

Esports bukan sekadar bermain gim untuk bersenang-senang. Pemain profesional perlu membaca strategi lawan, menentukan keputusan dalam waktu singkat, dan menemukan cara baru untuk bekerja sama. Mereka juga berlatih agar mampu menjaga konsentrasi dan beradaptasi dengan jadwal pertandingan.

Di final, Korea menghadapi situasi sulit pada dua gim pertama, tetapi para pemain bertahan dan akhirnya menang. Faker mengatakan kegigihan seperti itu merupakan salah satu daya tarik olahraga: tim harus terus berusaha meski keadaan belum menguntungkan. Hal serupa dapat terlihat dalam olahraga lain, ketika atlet harus mencari peluang dan tetap fokus sampai pertandingan selesai.

Persiapan turnamen juga mencakup kebiasaan sehari-hari. Karena pertandingan Asian Games kali ini berlangsung pada siang hari, para pemain perlu menyesuaikan waktu bangun dan pola hidup mereka dengan jadwal baru. Perubahan kecil seperti ini dapat berpengaruh pada kesiapan pemain, sama seperti atlet cabang lain yang menyesuaikan latihan dengan waktu pertandingan.


Pesan Faker kepada anak-anak: tekuni minat, tetap kendalikan waktu bermain

Faker berharap anak-anak menemukan hal yang benar-benar mereka sukai, lalu menjalaninya dengan semangat dan rasa ingin tahu. Namun, ia juga mengingatkan bahwa gim dapat membuat seseorang larut terlalu lama. Anak-anak mungkin belum mudah mengatur waktu sendiri, sehingga ia menyarankan mereka membicarakan kebiasaan bermain dengan orang tua.

“Temukan sesuatu yang disukai dan cobalah dengan penuh semangat. Namun, jangan sampai terlalu tenggelam dalam gim. Nikmatilah dengan sehat dan secukupnya, serta bicarakan dengan orang tua,” pesannya.

Pesan itu bukan berarti anak-anak harus menghindari gim sepenuhnya. Seperti kegiatan hiburan lainnya, bermain dapat menjadi bagian dari keseharian selama tidak mengganggu tidur, belajar, aktivitas fisik, dan hubungan dengan orang lain. Misalnya, keluarga dapat menyepakati waktu bermain dan waktu berhenti, lalu memastikan anak tetap mempunyai kesempatan untuk beristirahat dan melakukan kegiatan lain.


Tantangan berikutnya menanti bersama tim klub

Setelah menyelesaikan Asian Games, Faker akan kembali bergabung dengan tim klubnya untuk mempersiapkan diri menghadapi Kejuaraan Dunia League of Legends di Amerika Utara. Turnamen itu merupakan ajang internasional utama bagi tim-tim profesional dari berbagai wilayah.

Faker mengatakan Asian Games memberinya banyak pelajaran dan membuat semangatnya semakin besar. Untuk menghadapi tantangan berikutnya, ia ingin lebih berfokus pada proses persiapan daripada hanya memikirkan hasil akhir. Sikap tersebut mencerminkan perjalanan seorang atlet: kemenangan penting, tetapi latihan, kerja sama, dan kesiapan menghadapi pertandingan juga menjadi bagian dari pencapaian.

“Saya belajar banyak dari Asian Games dan semangat saya semakin besar. Saya akan berfokus pada proses persiapan dan menghadapi tantangan baru,” kata Faker.